PROGRAM FAKTORIAL

Published April 14, 2013 by ayukusumadewi

Program ini merupakan program Visual Basic 6.0 sederhana yang saya buat. Untuk mengunduh program ini silakan klik file dibawah ini

FAKTORIAL

catatan:

Setelah download, fiLe masih dalam bentuk faktorial.doc

sehingga perlu d ubah existensi’a dalam bentuk exe, menjadi faktorial.exe dengan cara pada file “klik kanan – rename”

LANGKAH-LANGKAH PEMROGRAMAN DALAM VISUAL BASIC 6.0

PROGRAM FAKTORIAL

1. Desain Form

1

2.  PENGATURAN PROPERTI

No

OBJECT

PROPERTI

NILAI

1

Form1

Name  Form 1
BackColor &H8000000F&
Caption PROGRAM FAKTORIAL

2

Label1

Name  Label1
Back Color &H8000000F&
Caption PROGRAM FAKTORIAL
Font Times New Roman, 16, Bold
Fore color &H8000000D&

3

Label 2

Name Label 2
Back Color &H8000000F&
Caption Masukkan Nilai Faktorial
Font Times New Roman, 14, Bold
Fore Color &H00000000&

4

Label 3

Name Label 3
Back Color &H8000000F&
Caption Hasil Faktorial
Font Times New Roman, 14, Bold
Fore Color &H8000000D&

6

Text 1

Name Text1
Back Color &H80000005&
Font Times New Roman, 14, Bold
Fore Color &H8000000D&
Text <kosongkan>
Tab Index 7

7

Text 2

Name Text2
Back Color &H80000005&
Font Times New Roman, 14, Bold
Fore Color &H8000000D&
Text <kosongkan>
Tab Index 3

9

Command 1

Name Command1
Caption HITUNG
Font Times New Roman, 14, Bold
Tab Index 4

10

Command 2

Name Command2
Caption HAPUS
Font Times New Roman, 14, Bold
Tab Index 5

11

Command 3

Name Command3
Caption TUTUP
Font Times New Roman, 14, Bold
Tab Index 6

3.    KODE PROGRAM

Kode program untuk Command 1(hitung) yaitu:

Private Sub Command1_Click()

Dim a, b, i As Integer

i = 1

b = Text1.Text

For a = 1 To b

i = i * a

Next

Text2.Text = i

End Sub

Kode program untuk Command 2 (hapus) yaitu:

Private Sub Command2_Click()

Text1.Text = “”

Text2.Text = “”

Text1.SetFocus

End Sub

Kode program untuk Command 3 (exit) yaitu:

Private Sub Command3_Click()

End

End Sub

4.      TAMPILAN OUTPUT PROGRAM

1

Semoga bermanfaat….

Operasi Hitung Bilangan Bulat

Published Februari 8, 2013 by ayukusumadewi

Operasi Hitung Bilangan Bulat

 

1.      Operasi Hitung Bilangan Bulat

a.       Penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat

Cara penjumlahan bilangan bulat adalah sebagai berikut :

–          Jika kedua bilangan tandanya sama, maka :

a.       Tanda hasil penjumlahan sama dengan tanda kedua buah bilangan

b.      Hailnya sama dengan penjumlahan kedua bilangan tersebut.

 

Contoh soal :

1.      Hasil dari 15 + 15  = 30

2.      Hasil dari  -14 + (-20) = – 34

 

–          Jika kedua bilangan tandanya berbeda, maka:

a.       Tanda hasil penjumlahan, sama dengan tanda bilangan terbesar dalam penjumlahan tersebut.

b.      Hasil sama dengan selisih antara bilangan terbesar dengan bilangan terkecil dalam penjumlahan tersebut

Contoh soal :

1.      Hasil dari – 24 + 12 =

Untuk soal di atas ini silahkan baca kebali keterangan 2(a), bahwa tanda hasil penjumlahan sama dengan tanda bilangan terbesar dalam penjumlahan tersebut.

(Bilangan yang terbesar dalam penjumlahan tersebut adalah -24 maka hasilnya pun pasti – /mins).

Kemudian perhatikan lagi 2(b)-nya. Hasilnya sama dengan selisih antara penjumlhan dua bilangan tersebut = 24 – 12 = 14. Maka jika digabungkan dengan 2(a) dan 2(b) hasilnya jadi -12.

 

2.      Hasil dari 85 – (-35) + (-45) =

Untuk soal seperti di atas, kerjakan terlebihdahulu dari sebelah kiri. Yaitu 85 – (-35) diubah menjadi 85 + 35 = 120 tinggal dikurangi dengan – 45. Menjadi seperti berikut 120 – 45 = 75

3.      Menurut prakiraan cuaca, suhu di Kp. Tarogong adalah 300C, sedangkan suhu di Kp. Cikandang -100C, selisih suhu dari kedua Kampung tersebut adalah….

Untuk menyelesaikan soal di atas maka perlu diuraikan terlebih dahulu konsep penghuitungannya  menjadi sebagai berikut :

Selisih suhu = Suhu Kp. Tarogong – Suhu Kp. Cikandang

Selisih suhu = 300C – (-100C)

= 30 + 10

= 400C

 

b.      Perkalian dan pembagian bilangan bulat

Pada dasarnya perkalian bilangan bulat hamper sama dengan perkalian bilangan cacah. Namun pada perkalian bilangan bulat  terdapat aturan perkalian tanda dengan tententun :

(+) X (+) = (+)

(+) X (-)  = (-)

(-)  X (+  = (-)

(-)  X (-) = (+)

 

Dalam operasi pembagian bilangan bulat juga berlaku suatu aturan, sebagai berikut :

(+) : (+) = (+)

(+) : (-)  = (-)

(-) : (+)  = (-)

(-) : (-)   = (+)

 

c.       Operasi hitung campuran pada bilangan bulat

 

Untuk mengerjakan operasi hitung campuran bilangan bulat, perlu diperhatikan urutan pengerjaannya sebagai berikut :

1.      Kerjakan operasi hitung yang terdapat dalam tanda kurung terlebih dahulu.

2.      Jika dalam operasi hitung terdapat operasi penjumlahan dan pengurangan, kerjakan dulu operasi hitu yang paling depan (sebelah kiri)

3.      Jika dalam perasi hitung campuran terdapat operasi hitung perkalian dan pembagian, kerjakan dulu operasi hitung yang paling depan (sebelah kiri)

4.      Kerjakan perkalian atau pembagian terlebih dahulu sebelum penjumlahan dan pengurangan.

 

Contoh soal :

1.      34 x (-24) – (-4) = -816 – (-4)

= -816 + 4

= – 812

 

2.      (-75) : (-5) – (-13) = 5 – (-13)

= 5 + 13

= 18

 

workshop matematika

Published Februari 8, 2013 by ayukusumadewi

2. Misal lambang bilangan yang dipilih adalah x, y, dan z

x untuk ratusan

y untuk puluhan

z untuk satuan

 

x . 2                             = 2x

2x +3                           = 2x +3

(2x + 3). 5                   =10x + 15

10x + 15 + 7                = 10x + 22

10x + 22 + y                =10x + y +22

(10x + y + 22). 2         = 20x + 2y + 44

20x + 2y + 44 + 3       = 20x + 2y + 47

(20x + 2y + 47). 5       = 100x + 10y + 235

100x + 10y + 235 + z  = 100x + 10y + z + 235

 

  • Karena hasil dari perhitungan diatas, hasil akhirnya ditambah 235 jadi untuk mengetahui bilangan asal dari bilangan yang dirahasiakan, maka hasil perhitungan harus dikurangi 235.

 

4. Diketahui          : 11 anak sekolah

: 10 kamar kosong

  • kamar nomber 1   ditempati oleh anak ke 1 dan 2
  • kamar nomber 2   ditempati oleh anak ke 3
  • kamar nomber 3   ditempati oleh anak ke 4
  • kamar nomber 4   ditempati oleh anak ke 5
  • kamar nomber 5   ditempati oleh anak ke 6
  • kamar nomber 6   ditempati oleh anak ke 7
  • kamar nomber 7   ditempati oleh anak ke 8
  • kamar nomber 8   ditempati oleh anak ke 9
  • kamar nomber 9   ditempati oleh anak ke 10
  • kamar nomber 10 ditempati oleh anak ke 2

 

 

v  Kesalahan dari pembagian kamar diatas adalah anak ke 11 tidak mendapatkan kamar.

 

  1. Kambing yang didapatkan masing-masing anak dari 7 ekor kambing adalah

Anak sulung    = ½ x 7      = 3.5

Anak tengah    = ½ x 3.5   = 1.75

Anak bungsu   = ½ x 1.75 = 0.875

 

Kambing yang didapatkan masing-masing anak dari 8 ekor kambing adalah

Anak sulung    = ½ x 8 = 4

Anak tengah    = ½ x 4 = 2

Anak bungsu   = ½ x 2 = 1

Selisih kambing yang didapatkan masing-masing anak dari 7 ekor kambing dan 8 ekor kambing adalah

Anak sulung    = 4 – 3.5     = 0.5

Anak tengah    = 2 – 1.75   = 0.25

Anak bungsu   = 1 – 0.875 = 0.125

 

v  Jadi anak yang paling untung adalah anak sulung.

 

  1. Jumlah bebek paling sedikit adalah 3 ekor

Misal 3 ekor bebek tersebut x, y, dan z

maka,

2 ekor bebek ada di depan yang satu ( x dan y ada di depan z )

2 ekor bebek ada di belakang yang satu (y dan z ada dibelakang x )

satu ekor bebek ada di tengah ( y ada di tengah )

 

  1. Buah apel minimum yang harus di beli agar tiap-tiap orang dapat sebuah apel adalah 3 buah.

Karena 2 orang bapak dan 2 orang anak yang dimaksud terdiri dari 3 orang, yaitu kakek, ayah dan cucu.

    • Kakek merupakan bapak dari Ayah. Ayah merupakan bapak dari anak. Jadi ada 2 bapak, yaitu kakek dan ayah. Dan ada 2 anak yaitu anak dari kakek dan anak dari ayah.

 

  1. Cangkir pertama 1 gandu, cangkir kedua 1 gandu, cangkir ketiga 12 gandu ; cangkir petama dan kedua dapat 1 gandu jadi ganjil, cangkir ketiga dapat 12 gandu juga ganjil (aneh), karena tidak mungkin satu cangkir the diberi 12 gandu gula.

 

9. diketahui           : berat seorang bapak 70kg

berat 2 orang anak masing-masing 35 kg dan 40 kg

ditanya            : bagaimana cara mereka menyebrang sungai dengan sebuah perahu yang daya muatnya hanya 80 kg?

jawab

 

    • Perahu harus menyebrang sungai sebanyak 1 kali, dengan cara 2 orang anak naik ke perahu sedangkan seorang bapak menyebrang sungai dengan cara berenang dengan berpegangan pada perahu tersebut. Seandainya perahu menyebrang sungai 2 kali dengan 2 orang anak menyebrang terlebih dahulu dan seorang bapak kemudian atau sebaliknya, bagaimana caranya perahu kembali kesebrang untuk menjemput penumpang berikutnya, tidak mungkin perahu tersebut bisa menyebrang sungai sendiri.

 

10. Misal angka-angka tersebut adalah x, y, dan z

lambang bilangan yang sama ditulis disebelah lambang bilangan yang dirahasiakan, sehingga menjadi xyzxyz

bilangan yang diperoleh dibagi 7                                = xyzxyz : 7

hasil baginya dibagi lagi dengan bilangan asal           = (xyzxyz : 7) : xyz

lalu hasil baginya dibagi lagi dengan 11                     = {(xyzxyz : 7) : xyz} : 11

= xyzxyz   x  1   x    1

xyz         7      11

 

 

= 1001(xyz) x    1

xyz          77

= 1001

77

= 13

11. Misal sebuah bilangan itu adalah x

bilangan tersebut di tambah 2                                     = x + 2

jumlahnya kalikan dengan 9                                       = (x + 2) . 9

hasil kalinya kurangi dengan 2 kali bilangan asal       = (9x + 18) – 2x

= 7x + 18

kemudian tambahkan dengan 17                                = 7x + 18 + 17

= 7x + 35

kemudian dibagi 7                                                      = (7x + 35) : 7

= x + 5

    • Karena hasil perhitungan diatas terdapat hasil yang ditambah 5, maka untuk mengetahui bilangan asal atau bilangan yang dirahasiakan hasil perhitungan harus dikurangi 5.

 

12. Misal dua bilangan yang lambang bilangannya masing-masing tidak lebih dari 2 angka adalah ab dan cd.

ab adalah bilangan pertama

cd adalah bilangan kedua

 

bilangan pertama kalikan dengan 2     = ab . 2

hasilnya ditambah 3                            = 2ab + 3

kemudian kalikan 5                             = (2ab + 3) . 5

= 10ab + 15

tambah 4                                             = 10ab + 15 + 4

= 10ab + 19

kemudian kalikan 10                           = (10ab + 19) . 10

= 100ab + 190

kemudian ditambah bilangan kedua   = 100ab + 190 + cd

= 100ab + cd + 190

 

    • Karena pada perhitungan diatas hasil akhirnya 100ab + cd + 190, maka untuk mengetahui lambang bilangan asal dari perhitungan tersebut hasil akhirnya dikurangi dengan 190.

 

13. Misal 3 bilangan yang masing-masing lambang bilangannya paling banyak terdiri dari 2 angka adalah ab, cd, dan ef

ab adalah bilangan pertama

cd adalah bilangan kedua

ef adalah bilangan ketiga

kalikan bilangan pertama dengan 10   = ab . 10

hasilnya kurangi 1                               = 10ab – 1

kalikan dengan 50                               = (10ab – 1) . 50

= 500ab – 50

ditambah 5 kali bilangan kedua          = 500ab – 50 + 5cd

lalu hasilnya kalikan dengan 20          = (500ab + 5cd – 50) . 20

=  10000ab + 100cd – 1000

tambahkan bilangan ke 3                    = 10000ab + 100cd – 1000 + ef

hasilnya ditambah 1                            = 10000ab + 100cd + ef – 1000 + 1

= 10000ab + 100cd + ef – 999

 

    • Karena pada perhitungan diatas hasil akhirnya dikurangi 999, jadi untuk mengetahui bilangan asal yang dirahasiakan, maka hasil akhirnya harus ditambah 999.

 

14. Banyak batu timbangan yang harus dibawa adalah 4 buah batu timbangan.

Dengan berat masing-masing batu timbangan adalah 1 ons, 2 ons, 4ons, dan 8 ons.

    • Batu 1 ons diukur dengan batu timbangan 1 ons
    • Batu 2 ons diukur dengan batu timbangan 2 ons
    • Batu 3 ons diukur dengan batu timbangan 1 ons dan 2 ons
    • Batu 4 ons diukur dengan batu timbangan 4 ons
    • Batu 5 ons diukur dengan batu timbangan 1 ons dan 4 ons
    • Batu 6 ons diukur dengan batu timbangan 2 ons dan 4 ons
    • Batu 7 ons diukur dengan batu timbangan 1 ons, 2 ons dan 4 ons
    • Batu 8 ons diukur dengan batu timbangan 8 ons
    • Batu 9 ons diukur dengan batu timbangan 1 ons dan 8 ons
    • Batu 10 ons diukur dengan batu timbangan 2 ons dan 8 ons
    • Batu 11 ons diukur dengan batu timbangan 1 ons, 2 ons dan 8 ons
    • Batu 12 ons diukur dengan batu timbangan 4 ons dan 8 ons
    • Batu 13 ons diukur dengan batu timbangan 1 ons, 4 ons dan 8 ons
    • Batu 14 ons diukur dengan batu timbangan 2 ons, 4 ons dan 8 ons
    • Batu 15 ons diukur dengan batu timbangan 1 ons, 2 ons, 4 ons dan 8 ons

 

Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Published Februari 8, 2013 by ayukusumadewi

Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

2.1  Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Tipe Jigsaw adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif di mana pembelajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa yang bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mendapatkan pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Pada pembelajaran tipe Jigsaw ini setiap siswa menjadi anggota dari 2 kelompok, yaitu anggota kelompok asal dan anggota kelompok ahli. Anggota kelompok asal terdiri dari 3-5 siswa yang setiap anggotanya diberi nomor kepala 1-5. Nomor kepala yang sama pada kelompok asal berkumpul pada suatu kelompok yang disebut kelompok ahli.

Esensi kooperatif learning adalah tanggung jawab individu sekaligus tanggung jawab kelompok, sehingga dalam diri siswa terbentuk sikap ketergantungan positif yang menjadikan kerja kelompok optimal. Keadaan ini mendukung siswa dalam kelompoknya belajar bekerja sama dan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh sampai suksesnya tugas-tugas dalam kelompok.

Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Johnson (1991 : 27) yang menyatakan bahwa “Pembelajaran Kooperatif Jigsaw ialah kegiatan belajar secara kelompok kecil, siswa belajar dan bekerja sama sampai kepada pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok”.

 

 

 

 

 

 

 

 

2.2   Model dan Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins (Arends, 2001).

Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson et. al. sebagai metode Cooperative Learning. Teknik ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara.

Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.

Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends, 1997).

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Arends, 1997).

Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, “siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan” (Lie, A., 1994).

Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topic pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali pada tim / kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.

Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.

Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai berikut (Arends, 1997) :

Kelompok Asal

Gambar. Ilustrasi Kelompok Jigsaw

Langkah-langkah dalam penerapan teknik Jigsaw adalah sebagai berikut :

  • Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4 – 6 siswa dengan kemampuan yang berbeda. Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam tipe Jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG). Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. Misal suatu kelas dengan jumlah 40 siswa dan materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya terdiri dari 5 bagian materi pembelajaran, maka dari 40 siswa akan terdapat 5 kelompok ahli yang beranggotakan 8 siswa dan 8 kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang ada pada kelompok ahli maupun kelompok asal.

 

 

 

 

 

Gambar Contoh Pembentukan Kelompok Jigsaw

  • Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.
  • Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual.
  • Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya.
  • Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran.
  • Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan Jigsaw untuk belajar materi baru maka perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

 

 

 

 

2.3  Tujuan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, et al. (2000), yaitu:

1.Hasil belajar akademik

Dalam belajar kooperatif tipe Jigsaw meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif tipe Jigsaw telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.

2.Penerimaan terhadap perbedaan individu

Tujuan lain model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif tipe Jigsaw akan belajar saling menghargai satu sama lain.

3.Pengembangan keterampilan social

Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah, mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.

2.4  Kelebihan dan Kelemahan dari Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

2.4.1 Kelebihan Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw

Menurut Ibrahim dkk (2000) menyatakan bahwa belajar kooperatif dapat mengembangkan tingkah laku kooperatif dan hubungan yang lebih baik antar siswa, dan dapat mengembangkan kemampuan akademis siswa. Siswa lebih banyak belajar dari teman mereka dalam belajar kooperatif dari pada guru. Ratumanan (2002)  menyatakan bahwa interaksi yang terjadi dalam bentuk kooperatif dapat memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa.

2.4.2 Kelemahan Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw

Beberapa hal yang bisa menjadi kendala aplikasi model ini dilapangan yang harus kita cari jalan keluarnya, menurut Roy Killen (1996), adalah:

  1. Prinsip utama pola pembelajaran ini adalah ‘peer teaching” pembelajaran oleh teman sendiri, akan menjadi kendala karena perbedaan persepsi dalam memahami suatu konsep yang akan didiskusikan bersama dengan siswa lain.
  2. Dirasa sulit meyakinkan siswa untuk mampu berdiskusi menyampaikan materi pada teman, jika siswa tidak memiliki rasa kepercayaan diri.
  3. Rekod siswa tentang nilai, kepribadian, perhatian siswa harus sudah dimiliki oleh pendidik dan ini biasanya dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengenali tipe-tipe siswa dalam kelompok tersebut.

 

 

  1. Awal penggunaan metode ini biasanya sulit dikendalikan, biasanya membutuhkan waktu yang cukup dan persiapan yang matang sebelum model pembelajaran ini bisa berjalan dengan baik.
  2. Aplikasi metode ini  pada kelas yang besar ( lebih dari 40 siswa) sangatlah sulit, tapi bisa diatasi dengan model team teaching

Agar pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat berjalan dengan baik, maka upaya yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Guru senantiasa mempelajari teknik-teknik penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw di kelas dan menyesuaikan dengan materi yang akan diajarkan.
  2. Pembagian jumlah siswa yang merata, dalam artian tiap kelas merupakan kelas heterogen.
  3. Diadakan sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.
  4. Meningkatkan sarana pendukung pembelajaran terutama buku sumber.Mensosialisasikan kepada siswa akan pentingnya sistem teknologi dan informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran

Model Pembelajaran Tipe STAD

Published Februari 8, 2013 by ayukusumadewi

Model Pembelajaran Tipe STAD

STAD, singkatan dari Student Teams-Achievement Division. Di dalam STAD siswa diorganisasikan dalam bentuk kelompok kecil. Secara singkat tahapan dalam melaksanakan model pembelajaran STAD adalah sebagai berikut:

  1. Penyajian kelas (Class Presentations). Guru menyajikan materi di depan kelas secara klasikal yang difokuskan pada konsep-konsep dari materi yang akan dibahas saja. Selanjutnya siswa disuruh belajar dalam kelompok kecil untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
  1. Pembentukan kelompok belajar (Teams). Siswa disusun dalam kelompok yang anggotanya heterogen (baik kemampuan akademiknya maupun jenis kelaminnya). Caranya dengan merangkingkan siswa berdasarkan nilai rapor atau nilai terakhir yang diperoleh siswa sebelum pembelajaran kooperatif model STAD. Adapun fungsi dari pengelompokan ini adalah untuk mendorong adanya kerjasama kelompok dalam memperlajari materi dan menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru.
  2. Pemberian Tes atau kuis (Quizzes). Setelah belajar kelompok selesai diadakan tes atau kuis dengan tujuan untuk mengetahui atau mengukur kemampan belajar siswa terhadap materi yang telah dipelajari. Dalam hal ini siswa sama sekali tidak dibenarkan untuk bekerjasama dengan temannya. Tujuan tes ini adalah untuk memotivasi siswa agar berusaha dan bertanggungjawab secara individual. Siswa dituntut untuk melakukan yang terbaik sebagai hasil belajar kelompoknya. Selain bertanggungjawab secara individual, siswa juga harus menyadari bahwa usaha dan keberhasilan mereka nantinya akan memberi sumbangan yang sangat berharga bagi kesuksesan kelompok. Tes ini dilakukan setelah satu sampai dua kali penyajian kelas dan pembelajaran dalam kelompok.
  3. Pemberian skor peningkatan individu (Individual Improvement Scores). Hal ini dilakukan untuk memberikan kepada siswa suatu sasaran yang dapat dicapai jika mereka bekerja keras dan memperlihatkan hasil yang baik dibandingkan dengan hasil sebelumnya. Pengelola skor hasil kerjasama siswa dilakukan dengan urutan berikut: skor awal, skor tes, skor peningkatan dan skor kelompok.
  4. Penghargaan kelompok (Team Recognition) Penghargaan kelompok ini diberikan dengan memberikan hadiah sebagai penghargaan atas usaha yang telah dilakukan kelompok selama belajar. (Slavin,1995 dalam Prilatama, 2008)

Di dalam STAD terdapat poin yg penting menurut saya yaitu bahwa model ini mengukur skor ‘peningkatan individu’, jadi tidak hanya sekedar menilai siswa dari seberapa banyak soal yang diselesaikannya pada saat itu saja saja, melainkan mengukur seberapa peningkatan yang terjadi dalam diri seorang siswa, dengan begini, siswa akan terpacu untuk belajar dengan giat dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengalahkan pencapaiannya sendiri pada pelajaran sebelumnya. Tidak hanya itu, karena dalam STAD peningkatan siswa anggota kelompok juga berpengaruh terhadap kesuksesan kelompok, maka dalam kelompok akan terjadi hubungan sosial yang bagus yang bertujuan untuk saling membantu untuk meningkatkan kualitas masing-masing anggotanya (itulah mengapa dalam STAD kelompok harus heterogen).

 

 

STAD, merupakan salah satu system pembelajaran kooperatif yang di dalamnya siswa dibentuk kedalam kelompok belajar yang terdiri dari empat atau lima anggota yang mewakili siswa dengan tingkat kemampuan dan jenis kelamin yang berbeda. Guru memberikan pelajaran dan selanjutnya siswa bekerja dalam kelompoknya masing-masing untuk memastikan bahwa semua anggota kelompok telah menguasai pelajaran yang diberikan.Kemudian siswa melaksanakan tes atas materi yang diberikan dan mereka harus mengerjakan sendiri tanpa bantuan siswa lainnya.

Nilai tes yang mereka peroleh,selanjutnya dibandingkan dengan nilai rata-rata yang mereka peroleh sebelumnya dan kelompok-kelompok yang berhasil memenuhi criteria diberi nilai tersendiri sehingga nilai ini kemudian ditambahkan pada nilai kelompok.

Menurut Slavin,STAD terdiri dari lima komponen uatama, yaitu presentasi kelas,kelompok,tes,nilai peningkatan individu,dan penghargaan kelompok.

Strategi STAD lebih mementingkan sikap daripada teknik dan prinsip,yakni sikap partisipasi dalam rangka mengembangkan potensi kognitif dan afektif.Dengan demikian,siswa lebih (being mode ) bukan hanya sekedar (being have ).

Kelebihan system ini, antara lain
1. Siswa lebih mampu mendengar,menerima dan menghormati serta menerima orang lain
2. Siswa mampu mengidentifikasi akan perasaannya juga perasaan orang lain.
3. Siswa dapat menerima pengalaman dan dan dimengerti orang lain.
4. Siswa mampu meyakinkan dirinya untuk orang lain dengan membantu orang lain dan meyakinkan dirinya untuk saling memahami dan mengerti.
5. Mampu mengembangkan potensi individu yang berhasil guna dan berdaya guna,kreatif,bertanggung jawab,mampu mengaktualisasikan , dan mengoptimalkan dirinya terhadap perubahan yang terjadi.

PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH

Published Februari 8, 2013 by ayukusumadewi

Pembelajaran Berdasarkan Masalah

 

A.   Konsep Dasar  

Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Learning/PBL) adalah suatu model pembelajaran yang didasarkan pada prinsip menggunakan masalah sebagai titik awal akuisisi dan integrasi pengetahuan baru. Model pembelajaran ini pada dasarnya mengacu kepada pembelajaran-pembelajaran mutakhir lainnya seperti pembelajaran berdasar proyek (project based instruction), pembelajaran berdasarkan pengalaman (experience based instruction), pembelajaran autentik (authentic instruction), dan pembelajaran bermakna.

Berbeda  dengan  pembelajaran penemuan (inkuiri-diskoveri) yang lebih menekankan pada masalah akademik.  Dalam Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning), pemecahan masalah didefinisikan sebagai proses atau upaya untuk mendapatkan suatu penyelesaian tugas atau situasi yang benar-benar nyata sebagai masalah dengan menggunakan aturan-aturan yang sudah diketahui. Jadi,  Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning)  lebih  memfokuskan  pada masalah kehidupan nyata yang bermakna bagi siswa.

B.     Alasan Pembelajaran Berdasarkan  Masalah

Beberapa alasan mengapa Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning) digunakan dalam proses pembelajaran:

  1. Seorang lulusan tidak dapat menaggulangi masalah yang dihadapinya hanya dengan menggunakan satu disiplin ilmu. Ia harus mampu menggunakan dan memadukan ilmu-ilmu pengetahuan yang telah dipunyai atau mencari ilmu pengetahuan yang dibutuhkannya dalam rangka menanggulangi masalahnya. Melalui Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning) yang diawali dengan pemberian masalah pemicu kepada  siswa dapat menerapkan suatu model pembelajaran secara spiral (spiral learning model) dengan memilih konsep dan prinsip yang terdapat dalam sejumlah cabang ilmu, sesuai kebutuhan masalah. Dengan diberi sejumlah masalah pemicu, diharapkan sebagian besar/seluruh materi cabang ilmu dicakup.
  2. Integrasi antara berbagai konsep/prinsip/informasi cabang ilmu dapat terjadi
  3. Kemampuan siswa untuk secara terus menerus melakukan “up-dating”/pengembangan pengetahuannya tercapai
  4. Perilaku sebagai seorang “ life long learner” dapat tercapai
  5. Langkah-langkah PBL yang dilaksanakan melalui diskusi kelompok dapat menghasilkan sejumlah keterampilan  diantaranya: (a) keterampilan  penelusuran kepustakaan; (b) keterampilan  membaca; (c) keterampilan/kebiasaan membuat catatan; (d) kemampuan kerjasama dalam kelompok; (e) keterampilan  berkomunikasi; (f) keterbukaan; (g) berpikir analitik; (h) kemandirian dan keaktifan belajar; dan (i) wawasan dan keterpaduan ilmu pengetahuan
  6. Dapat mengimbangi kecepatan informasi atau ilmu pengetahuan yang sangat cepat.

C.    Ciri dan Karakteristik Pembelajaran Berdasarkan  Masalah

Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning) memiliki beberapa ciri dan karakteristik sebagai berikut:

  1. Mengorientasikan siswa kepada masalah autentik dan menghindari pembelajaran terisolasi
  2. Berpusat pada siswa dalam jangka waktu lama
  3. Menciptakan pembelajaran interdisiplin,
  4. Penyelidikan masalah autentik yang terintegrasi dengan dunia nyata dan pengalaman praktis .
  5. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya
  6. Mengajarkan kepada siswa untuk mampu menerapkan apa yang mereka pelajari di sekolah dalam kehidupannya yang panjang
  7. Pembelajaran terjadi pada kelompok kecil (kooperatif).
  8. Guru berperan sebagai fasilitator, motivator dan pembimbing.
  9. Masalah diformulasikan untuk memfokuskan dan merangsang pembelajaran
  10. Masalah adalah kendaraan untuk pengembangan keterampilan pemecahan masalah.
  11. Informasi baru diperoleh lewat belajar mandiri.

D.    Keunggulan Pembelajaran Berdasarkan  Masalah

Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning) memiliki beberapa keunggulan, diantaranya: (1) siswa lebih memahami konsep yang diajarkan sebab mereka sendiri yang menemukan konsep tersebut; (2) melibatkan secara aktif memecahkan masalah dan menuntut keterampilan berpikir siswa yang lebih tinggi; (3) pengetahuan tertanam berdasarkan skemata yang dimiliki siswa sehingga pembelajaran lebih bermakna; (4) siswa dapat merasakan manfaat pembelajaran sebab masalah-masalah yang diselesaikan langsung dikaitkan dengan kehidupan nyata, hal ini dapat meningkatkan motivasi dan ketertarikan siswa terhadap bahan yang dipelajari; (5) menjadikan siswa lebih mandiri dan dewasa, mampu memberi aspirasi dan menerima pendapat orang lain, menanamkan sikap sosial yang positif diantara siswa; dan (6) pengkondisian siswa dalam belajar kelompok yang saling berinteraksi terhadap pembelajar dan temannya sehingga pencapaian ketuntasan belajar siswa dapat diharapkan.

Selain itu, Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning) diyakini pula dapat menumbuhkan-kembangkan kemampuan kreatifitas siswa, baik secara individual maupun secara kelompok karena hampir di setiap langkah menuntut adanya keaktifan siswa.

Keberhasilan model Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning)  sangat tergantung pada ketersediaan sumber belajar bagi siswa, alat-alat untuk menguji jawaban atau dugaan. Menuntut adanya perlengkapan praktikum, memerlukan waktu yang cukup apalagi data harus diperoleh dari lapangan, serta kemampuan guru  dalam mengangkat dan merumuskan masalah.

Dalam model Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning)  ini,  guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator, pembimbing dan motivator. Guru mengajukan masalah otentik/mengorientasikan siswa kepada permasalahan nyata (real world), memfasilitasi/membimbing (scaffolding) dalam proses penyelidikan, memfasilitasi dialog antara siswa, menyediakan bahan ajar siswa serta memberikan dukungan dalam upaya meningkatkan temuan dan perkembangan intektual siswa.

E.     Langkah-langkah  Pembelajaran Berdasarkan  Masalah

Pengelolaan Pembelajaran Berdasarkan  Masalah terdapat 5 langkah utama. yaitu: (1)  mengorientasikan siswa pada masalah; (2)  mengorganisasikan siswa untuk belajar; (3) memandu menyelidiki secara mandiri atau kelompok; (4)  mengembangkan dan menyajikan hasil kerja; dan (5)  menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah. Gambaran rinci kelima langkah tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 1. Prosedur Pembelajaran Berdasarkan   Masalah

Langkah

Kegiatan Guru

Orientasi masalah
  • Menginformasikan tujuan pembelajaran
  • Menciptakan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadi pertukaran ide yang terbuka
  • Mengarahkan pada pertanyaan atau masalah
  • Mendorong siswa mengekspresikan ide-ide secara terbuka
Mengorganisasikan siswa untuk belajar
  • Membantu siswa menemukan konsep berdasar masalah
  • Mendorong keterbukaan, proses-proses demokrasi dan cara belajar siswa aktif
  • Menguji pemahaman siswa atas konsep yang ditemukan
Membantu menyelidiki secara mandiri atau kelompok
  • Memberi kemudahan pengerjaan siswa dalam mengerjakan/menyelesaikan masalah
  • Mendorong kerjasama dan penyelesaian tugas-tugas
  • Mendorong dialog, diskusi dengan teman
  • Membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang berkaitan dengan masalah
  • Membantu siswa merumuskan hipotesis
  • Membantu siswa dalam memberikan solusi
Mengembangkan dan menyajikan hasil kerja
  • Membimbing siswa mengerjakan lembar kegiatan siswa (LKP)
  • Membimbing siswa menyajikan hasil kerja
Menganalisa dan mengevaluasi hasil pemecahan
  • Membantu siswa mengkaji ulang hasil pemecahan masalah
  • Memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemcahan masalah
  • Mengevaluasi materi

 

MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION

Published Februari 8, 2013 by ayukusumadewi

Pembelajaran Metode Group Investigation

Group Investigationn merupakan  salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif  yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet.  Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model Group Investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran.

Dalam metode Group Investigation terdapat tiga konsep utama, yaitu: penelitian atau enquiri, pengetahuan atau knowledge, dan dinamika kelompok atau the dynamic of the learning group, (Udin S. Winaputra, 2001:75). Penelitian di sini adalah proses dinamika siswa memberikan respon terhadap masalah dan memecahkan masalah tersebut. Pengetahuan adalah pengalaman belajar yang diperoleh siswa baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan dinamika kelompok menunjukkan suasana yang menggambarkan sekelompok saling berinteraksi yang melibatkan berbagai ide dan pendapat serta saling bertukar pengalaman melaui proses saling beragumentasi.

Slavin (1995) dalam Siti Maesaroh (2005:28), mengemukakan hal penting untuk melakukan metode Group Investigation adalah:

1. Membutuhkan Kemampuan Kelompok.

Di dalam mengerjakan setiap tugas, setiap anggota kelompok harus mendapat kesempatan memberikan kontribusi. Dalam penyelidikan, siswa dapat mencari informasi dari berbagai informasi dari dalam maupun di luar kelas.kemudian siswa mengumpulkan informasi yang diberikan dari setiap anggota untuk mengerjakan lembar kerja.

2. Rencana Kooperatif.

Siswa bersama-sama menyelidiki masalah mereka, sumber mana yang mereka butuhkan, siapa yang melakukan apa, dan bagaimana mereka akan mempresentasikan proyek mereka di dalam kelas.

3. Peran Guru.

Guru menyediakan sumber dan fasilitator. Guru memutar diantara kelompok-kelompok memperhatikan siswa mengatur pekerjaan dan membantu siswa mengatur pekerjaannya dan membantu jika siswa menemukan kesulitan dalam interaksi kelompok.

Para guru yang menggunakan metode GI umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 sampai 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen, (Trianto, 2007:59). Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki, melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang  telah dipilih, kemudian menyiapkan dan mempresentasikan laporannya di depan kelas.

Langkah-langkah penerapan metode Group Investigation, (Kiranawati (2007), dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. Seleksi topik

Para siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dulu oleh guru. Para siswa selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Komposisi kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik maupun kemampuan akademik.

2. Merencanakan kerjasama

Para siswa bersama guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus, tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah a) diatas.

3. Implementasi

Para siswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah b). pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan keterampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan.

4. Analisis dan sintesis

Para siswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh pada langkah c) dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas.

5. Penyajian hasil akhir

Semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru.

6. Evaluasi

Guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu atau kelompok, atau keduanya.

Tahapan-tahapan kemajuan siswa di dalam pembelajaran yang menggunakan metode Group Investigation untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut, (Slavin, 1995) dalam Siti Maesaroh (2005:29-30):

Enam Tahapan Kemajuan Siswa di dalam Pembelajaran Kooperatif dengan Metode Group Investigation

Tahap I

Mengidentifikasi topik dan membagi siswa ke dalam kelompok.

Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk memberi kontribusi apa yang akan mereka selidiki. Kelompok dibentuk berdasarkan heterogenitas.

Tahap II

Merencanakan tugas.

Kelompok akan membagi sub topik kepada seluruh anggota. Kemudian membuat perencanaan dari masalah yang akan diteliti, bagaimana proses dan sumber apa yang akan dipakai.

Tahap III

Membuat penyelidikan.

Siswa mengumpulkan, menganalisis dan mengevaluasi informasi, membuat kesimpulan dan mengaplikasikan bagian mereka ke dalam pengetahuan baru dalam mencapai solusi masalah kelompok.

Tahap IV

Mempersiapkan tugas akhir.

Setiap kelompok mempersiapkan tugas akhir yang akan dipresentasikan di depan kelas.

Tahap V

Mempresentasikan tugas akhir.

Siswa mempresentasikan hasil kerjanya. Kelompok lain tetap mengikuti.

Tahap VI

Evaluasi.

Soal ulangan mencakup seluruh topik yang telah diselidiki dan dipresentasikan.

Terkait dengan efektivitas penggunaan metode Metode Group Investigation ini, dari hasil penelitian yang dilakukan  terhadap siswa kelas X SMA Kosgoro Kabupaten Kuningan Tahun 2009 menunjukkan bahwa:

Pertama, dalam pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation berpusat pada siswa, guru hanya bertindak sebagai fasilitator atau konsultan sehingga siswa berperan aktif dalam pembelajaran.

Kedua, pembelajaran yang dilakukan membuat suasana saling bekerjasama dan berinteraksi antar siswa dalam kelompok tanpa memandang latar belakang, setiap siswa dalam kelompok memadukan berbagai ide dan pendapat, saling berdiskusi dan beragumentasi dalam memahami suatu pokok bahasan serta memecahkan suatu permasalahan yang dihadapi kelompok.

Ketiga, pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation siswa dilatih untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi, semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari, semua siswa dalam kelas saling terlihat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut.

Keempat, adanya motivasi yang mendorong siswa agar aktif dalam proses belajar mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran.

Melalui pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation suasana belajar terasa lebih efektif, kerjasama kelompok dalam pembelajaran ini dapat membangkitkan semangat siswa untuk memiliki keberanian dalam mengemukakan pendapat dan berbagi informasi dengan teman lainnya dalam membahas materi pembelajaran.

Dari hasil penelitian ini pula dapat disimpulkan bahwa keberhasilan dari penerapan pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation dipengaruhi oleh faktor-faktor yang kompleks, diantaranya: (1) pembelajaran berpusat pada siswa, (2) pembelajaran yang dilakukan membuat suasana saling bekerjasama dan berinteraksi antar siswa dalam kelompok tanpa memandang latar belakang, (3) siswa dilatih untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi, (4) adanya motivasi yang mendorong siswa agar aktif dalam proses belajar mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran.